Selamat datang di SMP IT Atsaqibiyah On line

Selasa, 21 Februari 2012

Anak Tukang Kayu Kuliah di Fakultas Kedokteran UNS


Sragen – Pekerjaan orang tuanya sebagai seorang tukang kayu, tidak menyurutkan semangat Dewi Nur Fatimah untuk bersekolah. Setelah berhasil mendapatkan beasiswa Bidik Misi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dewi melanjutkan pendidikannya ke Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta, Jawa Tengah. Mahasiswi semester dua ini bahagia dan terharu karena tidak pernah menyangka bisa kuliah tanpa mengeluarkan uang, bahkan mendapatkan uang setiap bulan.
Keberhasilan Dewi tak lain juga berkat doa sang ibu, seorang ibu rumah tangga, yang menginginkan anaknya bisa kuliah. Walaupun sang ibu sadar, tidak mungkin jika dirinya harus membiayai kuliah Dewi. “Saya sering berpikiran, anak pintar tapi tak bisa sekolah, sedangkan anak yang tidak pintar tapi punya uang, bisa sekolah,” ujar ibu Dewi hampir menangis.

Jumat, 17 Februari 2012

Berkat Bidikmisi Syamsul Berani Bercita-cita

02/09/2012
Menjadi tulang punggung keluarga di usia yang masih sangat muda dan selalu hidup dalam kemiskinan, membuat Syamsul (20) tidak pernah membayangkan mendapat kesempatan kuliah di perguruan tinggi. Namun beasiswa Bidikmisi yang ia terima memberinya kesempatan untuk berjuang meraih masa depan yang lebih baik dan memutus rantai kemiskinan di keluarganya. "Sekarang saya berani bercita-cita, saya ingin menjadi dosen." ungkap Syamsul. Ia sekarang tercatat sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika di Universitas Jambi (UNJA).

Pelajar Maung Lintasi Dua Sungai untuk Capai Sekolah


Berjuang untuk Pendidikan
Darwiaty Ambo Dalle | Inggried Dwi Wedhaswary | Rabu, 15 Februari 2012 | 15:59 WIB
Darwiaty Ambo DalleUntuk bisa sampai ke sekolah, puluhan pelajar di Dusun Maung, Pinrang, Sulawesi Selatan harus menempuh jarak sekitar 3 kilometer dan melintasi dua sungai berarus deras.
PINRANG, KOMPAS.com — Selain karena keterbatasan ekonomi, tingginya angka putus sekolah di sejumlah daerah di wilayah Indonesia juga disebabkan oleh minimnya akses dan fasilitas pendidikan. Terbatasnya akses dan fasilitas pendidikan membuat mereka harus menempuh perjalanan panjang, bahkan penuh perjuangan, untuk mencapai lokasi sekolahnya. Salah satunya dapat dilihat dari perjuangan para pelajar di Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan.

Siswa SDN 277 Pangi-Pangi Tenteng Kursi ke Sekolah


Minim Fasilitas
Rini Putri | Inggried Dwi Wedhaswary | Kamis, 16 Februari 2012 | 10:38 WIB
AndrianiSejumlah murid SD Negeri 277 Pangi-pangi, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan nampak membawa bangku dan meja yang sudah rusak dari rumahnya menuju ke sekolah mereka, Kamis (16/2/2012).
BULUKUMBA, KOMPAS.com - Puluhan murid SD Negeri 277 Pangi-pangi, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, tampak bersemangat menuju sekolah mereka. Meski pun, mereka harus membawa tambahan bawaan selain tas berisi buku-buku. Para siswa ini terpaksa membawa kursi dan meja dari rumah mereka masing-masing menuju ke sekolah. Alasannya, tak ada fasilitas yang bisa mereka gunakan di sekolah yang pernah disegel warga itu. Lahan sekolah diklaim warga sebagai miliknya.

PHOTO STORY: Perjuangan untuk Pendidikan


POTRET PENDIDIKAN
Kristianto Purnomo | Fikria Hidayat | Senin, 23 Mei 2011 | 09:20 WIB

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMOMurid SDNegeri Cicaringin 3, Kecamatan Gunung Kencana, Lebak, Banten meniti kawat baja menyeberang Sungai Ciliman saat berangkat ke sekolah, Rabu (18/5/2011). Lambannya pemerintah membangun infrastruktur membuat mereka harus rela berjalan kaki sejauh enam kilometer pergi pulang untuk mencapai sekolah dan berisiko terjatuh ke sungai.

KOMPAS.com - 
Perjalanan menuju Desa Cicaringin, Kecamatan Gunung Kencana, Kabupaten Lebak, Banten tinggal selangkah lagi. Mobil yang saya kendarai menyapu jalan tanah desa yang diperkeras dengan batu, tanjakan dan turunan berkelok, dan membelah perkebunan karet.

Suasana pedesaan begitu terasa saat memasuki Desa Cicaringin. Rumah-rumah panggung berdinding anyaman bambu menjadi pemandangan sebagian besar rumah warga. Desa yang berjarak sekitar 50 kilometer dari pusat Kota Serang boleh dibilang miskin infrastruktur.

Relativitas waktu

Kini, relativitas waktu adalah fakta yang terbukti secara ilmiah. Hal ini telah diungkapkan melalui teori relativitas waktu Einstein di tahun-tahun awal abad ke-20. Sebelumnya, manusia belumlah mengetahui bahwa waktu adalah sebuah konsep yang relatif, dan waktu dapat berubah tergantung keadaannya. Ilmuwan besar, Albert Einstein, secara terbuka membuktikan fakta ini dengan teori relativitas. Ia menjelaskan bahwa waktu ditentukan oleh massa dan kecepatan. Dalam sejarah manusia, tak seorang pun mampu mengungkapkan fakta ini dengan jelas sebelumnya.
Tapi ada perkecualian; Al Qur'an telah berisi informasi tentang waktu yang bersifat relatif! Sejumlah ayat yang mengulas hal ini berbunyi:
"Dan mereka meminta kepadamu agar azab itu disegerakan, padahal Allah sekali-kali tidak akan menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu menurut perhitunganmu." (Al Qur'an, 22:47)